Rabu, 02 November 2011

Gothic ( materi student day "tata rias")


GOTHIC menjadi tema utama koleksi Sofie untuk tren 2010. Rancangannya hadir gelap, mistis, dingin, namun di sisi lain juga penuh warna, embellishment, juga craftmanship yang menjadi signature-nya.
Seusai pertunjukan Malik Moestaram yang penuh warna serta energi di Jakarta Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu, panggung mode mendadak dingin. Musik latar berganti dengan nada yang lebih muram, menekan. Panggung gelap dan layar besar di mulut catwalk menyajikan gambar bulan purnama pucat yang menerangi malam. Ada dua kata terpampang dalam warna merah menyala, Sofie, Gothchic.
Sesuai dengan judul koleksi yang disajikannya, Sofie memang menghadirkan koleksi bergaya gothic. Gelap, muram, dingin. Warna-warna solid yang menjadi ciri khas busana gothic pun terlihat mendominasi koleksinya. Namun tidak hanya hitam, Sofie dengan lihai menambahkan kombinasi warna dalam nuansa gelap yang disajikannya.
Ya, gothic tidak harus selalu hitam dan hitam tidak berarti gothic. Di tangan Sofie, gothic tampil sedikit lembut. Gaya busana yang diadaptasi dari busana berkabung wanita di era Victorian itu memang kerap didominasi warna hitam, yang tidak hanya melekat pada busana, tapi juga tata rias. Di catwalk Sofie, dark mood terlihat kental dari tata rias, sementara busananya merupakan campuran citra muram ala gothic dengan sentuhan rebel ala punk rock. Menciptakan tampilan baru, yang disebut Sofie sebagai Gothchic.
“Inspirasinya datang dari bangunan-bangunan tua yang bernuansa gothic. Mistis, dingin, kukuh, dan tak lekang oleh masa,” tutur desainer bernama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini.
Menurut Sofie, gedung-gedung tua tersebut menyimpan banyak cerita dan menjadi saksi bisu sejarah, saksi perubahan zaman. Itulah yang ingin disampaikan Sofie melalui koleksinya, bahwa gothic bisa mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan. Refleksi ide Sofie pun terlihat dari permainan warna-warna gelap yang dikombinasikan bersama napas etnik dari motif batik serta aplikasi manik juga metal.
Sofie pun tidak menampilkan koleksi bergaya feminin, melainkan bergaris androgyny. Hasilnya, rangkaian koleksi chic dengan added value dari batik, tie dye, juga lurik yang dikombinasikan dalam gaya neo punk.
Sisi kontemporer koleksi Sofie terlihat dari cutting yang dinamis. Potongan pendek menegaskan gaya praktis kaum urban, sementara kehadiran draperi menunjukkan kelembutan rancangan Sofie.
Highlight lainnya adalah ragam jaket pendek yang menjadi pelengkap busana. Bolero dan blazer pendek yang menyertai terusan ataupun padu padan celana dan blus justru menjadi “senjata” penarik perhatian, selain kombinasi acak dari batik dan lurik.
Sofie juga menunjukkan agresivitasnya dalam hal mix & match. Jodhpur bermotif bunga tampak menarik saat dipadu dengan cropped blazer, blus transparan, serta syal berornamen. Warna merah menjadi center of attention di antara palet-palet gelap dan secara keseluruhan mempertegas campuran gaya gothic dan neo punk yang hendak disampaikan Sofie.
Di kesempatan lain, Sofie mengombinasikan terusan berwarna pucat dengan cutting asimetris bermotif lurik dan batik bersama stoking hitam, fedora studs, heavy choker, serta ankle boots beraksen logam, menciptakan tampilan gothic nan lembut.
Ahli sejarah fashion Valerie Steele yang pernah menerbitkan buku berjudul “Gothic: Dark Glamor”, mengatakan bahwa gothic adalah gaya busana yang tidak lekang dimakan waktu.
“Gothic lebih dari sekadar hitam. Gothic adalah mood yang menunjukkan sisi gelap manusia dan gothic akan selalu hadir di setiap musim,” ujar Steele.
Kenapa? Alasannya, menurut Steele sangat sederhana, karena gothic didominasi hitam, warna yang diagungkan dalam mode.
“Hitam adalah warna yang harus selalu ada, dan karena itu gothic pun akan selalu ada,” terang Steele. “Kendati pun gothic terlihat sebagai anti-fashion, sebenarnya gothic adalah bagian dari fashion itu sendiri,” sambungnya.
Dan karena itulah, gothic terus berkembang dalam fashion dan menjelma menjadi berbagai gaya turunan. Pada ’70-an, gothic bersatu dengan punk dan melahirkan Sex Pistols beserta Siouxsie Sioux sebagai ikon kaum muda, sekaligus mengantar Vivienne Westwood membawa punk ke dalam lingkaran high fashion, saat sekali lagi gothic bertemu gaya Victorian klasik, lalu menjelma kembali sebagai gaya rebel kaum muda di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar